Jendela Aswaja

Menilik Tradisi dan Pemikiran Ulama

Ustadzah Vina Uctuvia di Kuliah Syawalan: Menulis Adalah Cara Santri Menolak Lupa dan Menjaga Eksistensi

Babakan Ciwaringin – Literasi adalah napas peradaban. Sadar akan rendahnya minat baca-tulis di Indonesia yang menduduki urutan tiga terbawah dunia, Kuliah Syawalan Ke-54 menghadirkan pakar linguistik, Ustadzah Vina Uctuvia, M.Li., untuk membangkitkan gairah menulis para santri.

Ustadzah Vina Uctuvia, M.Li. saat memotivasi Santri Syawalan untuk menjadikan menulis sebagai gaya hidup.

Intisari Materi Literasi:

  • Eksistensi: Menulis adalah cara menunjukkan jati diri kepada dunia.
  • Mental Linguistik: Bahasa mencerminkan kondisi mental seseorang.
  • Tips Membaca: Fokus pada 2 menit pertama; jika betah, lanjutkan. Jika tidak, jangan dipaksa.
  • Latihan: Biasakan jurnaling harian (apa yang dirasa, dilihat, dan dialami).

Menulis: Antara Objektivitas dan Emosi

Dalam pemaparannya, Ustadzah Vina menjelaskan perbedaan mendasar dalam kepenulisan. Untuk karya akademik, seorang penulis harus mampu menghilangkan rasa subjektif demi objektivitas. Sebaliknya, dalam tulisan non-akademik, keterlibatan emosional adalah kunci yang membuat tulisan terasa hidup dan menyentuh pembaca.

Beliau juga menekankan pentingnya latihan harian. "Tuliskan apa saja, meski hal yang dianggap tidak penting sekalipun. Tempat kejadian, orang yang ditemui, hingga perasaan saat itu. Konsistensi jurnaling akan membentuk otot menulis kalian," tegas beliau.

"Membaca, menulis, lalu bicarakan (jelaskan ulang). Itulah siklus penguasaan ilmu yang sempurna."

Closing yang Menyentuh Hati

Acara ditutup dengan sangat apik oleh moderator, Farhatussa'diyah, yang mengutip pesan mendalam tentang keabadian sebuah karya: "Orangnya sudah tidak ada, namun tulisannya masih dibaca. Jika ingin abadi, maka menulislah; berawal dari coretan hingga kalimat indah terangkai."

"Terima kasih Bu Nyai Vina... Bagai bunga di antara kebun, menyebarkan benih-benih pengetahuan. Di antara rentang waktu akan tumbuh mawar dan melati dengan karya tulisan yang memukau, melekat di jiwa, membekas di hati dan pikiran."

Melalui kajian ini, Santri Syawalan Ke-54 diharapkan tidak hanya menjadi pembaca yang pasif, tetapi bertransformasi menjadi penulis-penulis muda yang karyanya kelak akan mengharumkan nama bangsa dan agama. ***

Warta Resmi Tim Media Jam'iyyah Syubbanul Wathon - Babakan Ciwaringin.

Dukung Jendela Aswaja
Bantu kami terus menyebarkan ilmu dan tradisi ulama.
— PILIH NOMINAL QRIS (OTOMATIS) —
— ATAU TRANSFER MANUAL —