Puasa Ramadhan untuk Memperkuat Persaudaraan Islamiyah dan Wathoniyah

Yang paling nikmat dalam berIslam adalah dengan adanya Iman Kepada Allah SWT didalam diri kita. Adanya Iman, kehidupan kita di dunia dan akhirat akan terselamatkan oleh Rahmat dan Ridho Allah. Dalam hadits, Rasulullah bersabda "Tidak akan di masukkan ke api neraka, yang di dalam hatinya terdapat Iman, walaupun hanya seberat biji sawit".

Sejarah Awal adanya Puasa 

Berawal dari sejarah orang Jahiliyah (kaum Quraisy) itu menjalankan ritual puasa setiap tanggal 10 Muharram, dan Umat muslim sama-sama melakukan puasa di tanggal itu. Pada saat nabi Muhammad Saw hijrah ke kota Yatsrib (Madina), Nabi Muhammad mengetahui orang Yahudi yang menjalani Ibadah Puasa pada 10 Muharram, lalu nabi bertanya kepada mereka, kenapa kalian berpuasa di 10 Muharram? Orang Yahudi menjawab "kami berpuasa karena mengikuti nabi kita, nabi Musa As. Di tanggal 10 Muharram itu nabi Musa As di selamatkan oleh Allah SWT dari kejaran raja Fira'un. Dari kisah dan peristiwa itulah umat muslim di sunnahkan puasa mulai tanggal 9-10 Muharram supaya tidak sama dengan umat Yahudi yang berpuasa di tanggal 10 Muharram.

Pada tahun ke-2, Hijrahnya nabi Muhammad di bulan sya'ban, Allah SWT menurunkan ayat kewajiban berpuasa pada ayat 183: Al Baqarah. Namun pada awal mula diwajibkan nya berpuasa, tata cara atau syariat umat muslim seperti ini:

Pertama, setelah berbuka puasa bebas ingin melakukan apa saja, makan, minum, berhubungan suami istri, sampai waktu shalat isya.

Kedua, ketika sudah bangun dari tidur, sudah tidak boleh melakukan hal-hal tadi. Sehingga para sahabat kesusahan, banyak yang tidak kuat dan banyak yang melanggarnya. Sehingga diturunkan ayat 187: Al Baqarah "dihalalkan bagimu berhubungan suami istri karena Allah SWT tahu kita tidak mampu menahan hasrat biologis". Allah memaafkan kaum muslimin dan memperpanjang waktu berbukanya sampai waktu imsak atau fajar.

Jadi puasa yang dilakukan oleh umat muslim saat ini, adalah puasa yang sudah diringankan oleh Allah SWT. Ibadah yang paling tua di jalankan oleh muslim adalah ibadah puasa dan tata caranya tetap seperti yang sudah diringankan oleh Allah SWT. 

tatacara dan syariat yang diberlakukan adalah tatanan agama sama'i. Agama sama'i adalah agama yang diturunkan langsung oleh Allah SWT melalui para nabi, dengan membawa syari'atnya. Pada dasarnya, pokok dari syariat itu sama, ada shalat, puasa dan berkunjung ke tempat suci. Yang termasuk agama samawi itu seperti agama Yahudi dan Nasrani.

Nah, semakin bertambah umur kita, semakin memperbaiki kualitas ibadah puasa kita. Ibadah puasa itu ada tiga tingkatan:

Pertama, shaumul 'am (puasanya orang umum), hanya menahan lapar, haus dan tidak berhubungan intim suami istri.

Kedua, shaumul khos ( puasa khusus), puasanya orang dewasa dalam menahan haus dan lapar, serta menahan syahwat, seperti wakaffus sami' (menjaga pendengaran), ketika ada yang mengajak ghibah tidak didengarkan dan ditinggal pergi. Wakaffus Bashori (menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan dosa). Wakaffus lisan (menjaga Tutur lisan atau ucapan), tidak mengghibah, berkata jorok, berkata kasar, dan lebih banyak membaca sholawat dan istighfar. Wakaffus yari ( menjaga jari jemari tangan kita). Apalagi sekarang zaman hapi, semua jari kita jangan digunakan untuk mengetik atau menulis hal-hal buruk, apalagi hal menimbulkan perpecahan.

Ketiga, shoumul khususul khusus (puasanya orang yang benar-benar berpuasa), baik jasmani maupun ruhaninya, tidak memikirkan hal duniawi. Jadi tingkatkanlah puasa kita, jangan jadikan puasa kita hanya menjadi rutinitas spiritual saja. 

Ketika di malam bulan suci ramadhan, Allah SWT mengampuni dosa-dosa hambanya yang sungguh-sungguh dan ingin bertaubat, kecuali beberapa golongan:

  1. Golongan orang pemabuk 
  2. Orang yang berani kepada kedua orang tua (durhaka)
  3. Orang yang memutus tali persaudaraan.

Untuk menjaga persaudaraan dan menghindari konflik antar saudara sebangsa atau seiman itu ada caranya, yakni pertama Ta'aruf: saling mengenal satu sama lainnya, bukan hanya kenal dari segi fisik tapi lebih ke sifat dan karakternya, supaya timbul rasa pengertian, kalau sudah muncul rasa pengertian dan kita mengetahui wataknya maka tidak akan timbul perselisihan yang panjang. Kedua, Ta'awun: saling tolong menolong. Contoh ketua Vera dipondok mendapat jengukan atau bestel dan temanya tidak punya apa-apa, dan butuh, maka Vera bisa membantunya, dan sebaliknya juga begitu nantinya. Ketiga, Tafahum: harus saling memahami satu sama lainnya, tidak terjadi salah faham antar saudara ketika sudah saling memahaminya. Keempat, Takaful: saling menjamin satu sama lainnya. Orang yang infak atau sedekah di jalan Allah SWT sama seperti ia menanam satu biji yang tumbuh tujuh tangkai. 

Ketika keempat tadi dijalankan, insyallah tercipta kedamaian, kerukunan, dan persaudaraan akan bertahan dengan sendirinya.red/Eya

Pemateri: Kang Tohir Gintung Tengah 


Editor: Kholil Baehaqi

Pimpinan Redaksi: M. Arif al-Bony

Mau donasi lewat mana?

BRI - Ahmad Rozi (4128-01-023304-53-0)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
© Jendela Aswaja. All rights reserved. Developed by Jago Desain