Yang Mustahil Bagi Allah

Jendela Aswaja- Dalam akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah), pembahasan tentang sifat Allah selalu dibagi menjadi sifat yang mutlak harus ada pada diri Tuhan, dikenal sebagai sifat wajib; Sifat yang mutlak tak boleh ada pada diri Tuhan, dikenal sebagai sifat mustahil; Dan sifat yang boleh ada dan boleh tidak, tergantung pada kehendak Tuhan, dikenal sebagai sifat Jaiz. Dalam kategorisasi seperti ini, seorang muslim mudah mengenal bagaimana Tuhannya dengan baik. 


Akan tetapi, sebagian orang tak mau belajar akidah dengan benar sehingga berkesimpulan yang tidak-tidak terhadap Tuhan. Ada yang menggugat keberadaan sifat wajib, ada pula yang menetapkan sifat mustahil dan ada juga yang mewajibkan sifat jaiz. Itu semua hanya kerancuan yang rapuh sekali landasannya, baik landasan aqli (pertimbangan rasional) maupun naqli (data riwayat). Saat ini saya akan membahas tentang sifat mustahil bagi Allah. 


www.pixabay.com


Sebelumnya, kita kupas dulu apa itu mustahil? Mustahil adalah kata lain dari tak mungkin. Hal yang mustahil terbagi menjadi dua, yakni mustahil secara adat dan mustahil secara akal. 


 a. Mustahil secara adat adalah hal-hal yang lumrahnya tak terjadi dalam kesehariannya tetapi secara teori bisa saja terjadi. Misalnya: manusia terbang, manusia berbicara dengan manusia lain di lintas benua, hujan uang, batu berubah jadi emas dan sebagainya. Hal-hal ini mustahil, namun hanya secara kebiasaan saja. Namun bila Allah menghendaki maka semuanya bisa saja terjadi. Hal yang dulunya dianggap mustahil secara adat bisa saja tidak mustahil lagi di masa berikutnya seperti manusia terbang dan komunikasi jarak jauh itu. Secara teori, kalau pun hal itu terjadi, maka tak ada suatu hukum pun yang dilanggar kecuali kebiasaan saja. Mukjizat para Nabi, Karamah para Wali dan sihir para tukang sihir semuanya berupa kekecualian bagi kategori mustahil secara adat. Jadi, kategori ini bukan hal yang tak masuk akal, tapi hal yang tak biasa terjadi.

 b. Mustahil secara akal atau rasio. Ini adalah mustahil dalam arti yang sebenarnya, yakni hal yang memang benar-benar tak mungkin terjadi sama sekali. Contohnya: Adanya angka yang ganjil sekaligus genap, masuknya planet bumi ke lubang jarum dalam kondisi ukuran keduanya tak berubah, terciptanya benda yang saking besarnya hingga Allah tak mampu mengangkatnya, adanya dua Tuhan yang berkuasa mutlak, dan lain-lain. Semua hal ini mutlak tidak mungkin terjadi dan tidak masuk akal. Tak ada orang yang mengaku rasional yang bisa berkata seperti contoh tersebut.

Baca jugaMengenal peran Kyai Salim dalam memperjuangkan NU

Sifat mustahil bagi Tuhan adalah semua sifat yang berada dalam kategori mustahil secara akal, yang berarti memang tak mungkin ada sama sekali sebab kalau ada berarti bukan Tuhan. Yang masuk dalam kategori mustahil bagi Tuhan adalah seluruh sifat-sifat kekurangan seperti: tidak ada, tidak bisa melihat, tidak bisa bicara, tidak bisa tahu, sakit, lupa, lemah, menua, menyerupai esensi makhluk, punya batasan, berupa jisim, terbatas dalam ruang, punya anak, punya saingan, punya pasangan, berawal, berakhir, berevolusi dan seterusnya yang merupakan sifat ketidak sempurnaan. Sebab Allah Maha sempurna, maka mustahil bagi diri-Nya untuk menjadi tidak sempurna. Kalau Allah bisa untuk menjadi tak sempurna, maka berarti kesempurnaan Tuhan tidaklah mutlak melainkan kesempurnaan temporer yang bisa hilang. Yang kesempurnaannya tidak mutlak jelas bukan Tuhan lagi dan tak layak disembah.


Jadi ada yang Allah tak mampu, yaitu menjadi tak sempurna. Mustahil bagi Allah untuk membuat sebuah batu dengan ukuran mega besar hingga Allah sendiri tak dapat mengangkatnya sebab faktanya mau sebesar apapun Allah pasti bisa mengangkatnya sesuai kesempurnaan-Nya. Mustahil juga bagi Allah untuk mempunyai anak sebab kalau punya anak berarti Dzat-Nya mengalami perubahan, mempunyai saingan dan berevolusi. Ini semua adalah ciri khas makhluk yang punya awalan dan akhiran.


Demikian juga mustahil bagi Allah membatasi dirinya dalam ruang tertentu dan butuh mekanisme tertentu sebab semua ini adalah ciri khas makhluk dalam arti hanya bisa dilakukan oleh makhluk saja, bukan oleh Sang Khaliq pencipta makhluk.


Kemahakuasaan Allah sendiri tak ada hubungannya dengan hal-hal mustahil secara akal di atas sehingga sama sekali tak relevan untuk menyebut Allah mampu melakukan hal-hal yang mustahil itu. Adapun hal-hal yang hanya masuk kategori mustahil secara adat, maka bisa saja Allah melakukannya sebab Allah Maha Kuasa.


Dengan ini, maka bisa kita lihat betapa anehnya pernyataan tokoh yang berkata seperti berikut ini:

وَلَوْ قَدْ شَاءَ لاَسْتَقَرَّ عَلىَ ظَهْرِ بَعُوْضَةٍ فَاسْتَقَلَّتْ بِهِ بِقُدْرَتِهِ وَلُطْفِ رُبُوْبِيَّتِهِ فَكَيْفَ عَلَى عَرْشٍ عَظِيْمٍ أَكْبَرِ مِنَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ؟

"Kalau Allah benar-benar berkehendak, maka dia bisa menetap di punggung nyamuk dan berdiam di sana dengan kemampuan-Nya dan kelembutan ketuhanan-Nya. Apalagi di atas Arasy yang lebih besar daripada langit dan bumi?".


Orang ini maunya menunjukkan kemaha kuasaan Allah tetapi dengan cara menampakkan ciri khas makhluk pada-Nya. Yang bisa menetap menunggangi nyamuk itu hanya jisim yang punya batasan fisik, punya ukuran, punya bobot, wajib menyesuaikan diri dengan mengatur berat badannya supaya sesuai dengan kondisi lalat yang dinaikinya, dan seterusnya yang semuanya adalah sifat-sifat kekurangan yang tak layak dimiliki oleh Tuhan. Kalau Tuhan bisa melakukan ini, berarti bisa juga melakukan hal lain yang menjadi ciri khas makhluk. Kalau bisa melakukan ciri khas makhluk berarti bisa berhenti menjadi khaliq. Bila bisa berhenti jadi khaliq, berarti bisa berhenti bersifat seperti Tuhan. Kalau bisa berhenti bersifat seperti Tuhan berarti bukan Tuhan.


Siapakah orang itu? dia adalah Utsman bin Said ad-Darimy yang pernyataannya sering dinukil pendaku Salafi. Pernyataan di atas dinukil oleh Ibnu Taymiyah dalam kitabnya yang berjudul Bayanu Talbis al-Jahmiyah tanpa sedikitpun memberikan komentar untuk menolaknya. Artinya, Ibnu Taymiyah juga mengakui kutipannya sebagai hujjah. Ini tak aneh sebab Ibnu Taymiyah sendiri dalam Majmu' Fatawa meyakini bahwa Nabi Muhammad kelak akan DUDUK BERSAMA ALLAH di Arasy. Dia berkata:


إذَا تَبَيَّنَ هَذَا فَقَدْ حَدَثَ الْعُلَمَاءُ الْمَرْضِيُّونَ وَأَوْلِيَاؤُهُ الْمَقْبُولُونَ: أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولَ اللَّهِ يُجْلِسُهُ رَبُّهُ عَلَى الْعَرْشِ مَعَهُ. 

"Kalau ini sudah jelas, maka para ulama yang diridloi dan para wali yang diterima telah berkata: “Sesungguhnya Muhammad didudukkan oleh Tuhannya di Arasy bersama Dia". 


Ucapan "para ulama yang diridloi dan para wali yang diterima" di atas layak diabaikan sebab itu hanya klaim sepihak dari Ibnu Taymiyah. Dia sendiri yang menyebut orang yang sealiran dengannya dengan sifat demikian.


Kalau Nabi Muhammad dibilang duduk itu wajar sebab memang duduk bukanlah sifat mustahil bagi seorang manusia. Namun kalau Tuhan dibilang duduk, maka lain ceritanya sebab berarti meyakini berbagai hal mustahil terjadi pada Dzat Allah, mulai berbentuk jisim, memiliki batasan ukuran, memiliki mekanisme yang mengharuskannya melakukan sesuatu (berarti Allah bersifat butuh), mengalami perubahan dan memiliki tanda-tanda kebaruan. Ini semua bukan sifat Tuhan tetapi sifat berhala. 


Karena itulah, Imam at-Thahawi yang akidahnya merepresentasikan akidah salaf yang sejati berkata:


تعالى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ولا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات ... ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر فقد كفر

"Allah Maha Suci dari batasan-batasan ukuran dan ujung, juga dari unsur-unsur, organ-organ tubuh dan anggota tubuh. Dia tak diliputi oleh arah yang enam seperti halnya seluruh hal yang baru. ... Siapa yang menyifati Allah dengan salah satu makna dari makna yang berlaku pada manusia, maka dia kafir".


Lebih lama dari itu, Khalifah keempat kita, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah, berkata:

من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

"Siapa yang menyangka bahwa Tuhan kita terbatas dengan ukuran, maka  dia tak mengerti al-Khaliq yang disembah".


Batasan ukuran merupakan ciri khas makhluk yang mustahil dimiliki Tuhan. Entah batas ukuran itu sekecil 1/1 triliyun inti atom atau besarnya trilyunan kali Arasy atau bahkan hingga kita tak dapat membayangkannya, sama saja tetap tak ada yang layak bagi Tuhan.


Penulis : Abdul Wahab Ahmad

Mau donasi lewat mana?

BRI - Ahmad Rozi (4128-01-023304-53-0)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
© Jendela Aswaja. All rights reserved. Developed by Jago Desain