Gaya Kiai Asmawi dalam ber NU ditingkat Lokal maupun Nasional

Kiai Asmawi (MWC Ciwaringin 1990, 2015/ mustasyar PWNU Jabar 2021) 

Kiai Asmawi adalah sosok kiai kampung yang sederhana, merakyat dan tegas dalam bersikap. Ia aktif dalam gerakan-gerakan NU struktural maupun kultural, dan ia getol dalam menyebarkan akidah ahlusunnah wal jamaah. Produktifitas dalam menulis tidak bisa dibisa dihentikan walaupun fisiknya lemah, terbukti dengan berbagai karya kitab-kitabnya di antaranya, grametika arab, Hujjah tahlil dan fikih pesantren yang mash dalam proses penyusunan. Ia merasa tanggung jawab di tubuh NU masih belum selesai.

Dua priode kiai Asmawi menjadi rois syuriah MWC Ciwaringin di tahun 1999 dan 2015. Dua masa yang berbeda dalam menjalankan roda keorganisasian NU. Di tahun 90' an kiai Asmawi menjalankan NU dengan memperluas gerakan NU dengan memperkuat silaturohmi ke ranting-ranting NU. Ia sering mendatangi kegiatan-kegiatan NU yang bersifat kultural, pengajian, tahlil, reriuangan. Berbeda di tahun 2015 kiai Asmawi memperkuat Ideologi NU dengan menulis kitab Hujjatul Tahlil dalam tulisan arab pegon yang diperuntukkan masyarakat umum di ciwaringin. Karena di tahun itu gerakan wahabi begitu masif sehingga kiai Asmawi merasa perlu adanya keseimbangan dalil al quran dan hadits.

Dalam penyusunan kitab hujjah tahlil, kiai asmawi masuk kedalam lingkungan wahabi waktu menjalankan haji. Kiai Asmawi mempelajari kitab dan pemikiran ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho dan pemikir lainnya. Selama 7 tahun kiai Asmawi menyusun dalil-dalil untuk mempertahankan akidah ahlusunnah wal jamaah annahdliyah. Penyusunan kitab hujjah tahlil bukan bentuk respond terhadap gerakan wahabi, melainkan sebagai bentuk mempertahan paham Aswaja di dalam tubuh NU. Dengan memperkuat akidah dari dalam, meminimalisir paham-paham dari luar NU. 

Sebab di dunia ini ada dua organisasi terbesar yakni ikhwanul muslimin (Mesir) dan NU (Indonesia). Gerakan ikhwan sudah rapuh sebab terjerat dalam perpolitikan, sedangkan NU masih kuat sebab gerakan NU masih di perkuat dari tingkatan desa sampai pusat, dari amaliah, ideologi dan nilai NU itu masih dipertahankan di desa-desa tingkat ranting dan MWC. Walaupun orang-orang NU sudah banyak berpolitik dan duduk di pemerintahan, namun ia menjadi amil. Menjadi amil itu bagus, tapi kalau jadi makmul itu tidak baik, seperti kiai Ma'ruf amin wakil presiden, lukman hakim, Yaqut mentri agama itu bagus. Asal NU tidak terjerat dalam politik kotor, NU akan selamat.

Di acara reriuangan kiai Asmawi berdialog dengan kiai Subhan salim ( MWC Ciwaringin 2020), mengatakan "isun iku ora bangga bisa ngaji, ngurus pondok, nulis kitab, tapi isun bangga bisa berjuang ning NU". Kalam kiai Asmawi ini menjadi dorongan untuk para pengurus NU agar terus bergerak aktif di NU, baik tingkat desa maupun kecamatan. Hal itu terlihat, ketika nama kiai Asmawi tercatat di PW sebagai mustasyar PWNU jabar 2021, tapi kiai Asmawi tetap fokus pada kegiatan NU di desa dan kecamatan. NU itu banyak mengalami sejarah untuk bangsa Indonesia ini, mulai Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi NU selalu hadir dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Makanya ketika NU diberi hari santri, kiai Asmawi tidak senang sebab tidak sepadan dengan perjuangan para kiai dan santri. Tapi kiai Asmawi tetap menghargai penghormatan pemerintah dengan menetapkan hari santri itu.

Kiai Asmawi dari kecil sudah NU, dan sampai kapanpun kiai Asmawi akan NU. Walaupun nama kiai Asmawi banyak tercatat dalam kepengurusan NU, dan itu tidak menjadi masalah selagi namanya bisa memberi kekuatan di NU. Kiai Asmawi akan terus mengikuti jejak para kiai sepuh dan nurut kiai sepuh. Karena adabnya orang NU patuh kepada kiai sepuh.


Editor: Kholil Baehaqi

Pimpinan Redaksi: Arif Al-Bony


Mau donasi lewat mana?

BRI - Ahmad Rozi (4128-01-023304-53-0)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
© Jendela Aswaja. All rights reserved. Developed by Jago Desain