Numbing Out : Akar penyebab dari penghilangan Emosi

Salah satu defense mechanism seseorang dalam menghadapi stress yang berlebih atau mengalami sebuah peristiwa yang membawa kesedihan yang demikian dalam adalah dengan melakukan emotional numbing. Seringkali kita memutuskan diri dari perasaan-perasaan yang berkecamuk baik itu marah, kesal, sedih dll, dengan harapan dengan numbing itu kita akan merasa tenang. But it's actually a wrong move. The most insiduous traps that we can fall into these days is numbing. Kita melarikan dari kenyataan perasaan yang ada. Kita berusaha membius emosi kita yang timbul dari sekian fenomena yang diakibatkan oleh dinamika perasaan, pertemanan, keluarga atau di pekerjaan.


Cara orang "numbing out" itu bermacam-macam. Ada yang hobi shopping online, atau kalau tidak belanja ya bisa berjam-jam scroll down layar telepon melihat barang-barang yang ditawarkan online. Yang lain bisa numbing dengan cara memuaskan diri dengan makanan yang enak-enak, sebanyak-banyaknya. Ada yang numbing dengan beres-beres atau kerja terus sampai dia kelelahan sendiri. Ada yang numbing dengan olahraga berlebihan, melebihi kapasitas tubuhnya. Ada yang numbing dengan melakukan binge-watching, berjam-jam melarutkan dirinya dalam alur cerita yang ditawarkan. Apapun dilakukan agar tidak berkonfrontasi dengan perasaannya sendiri.

Yang bahaya dari mekanisme numbing out adalah bahwa itu bisa membuat kita jadi ketagihan sesuatu. Ada yang jadi ketagihan minuman keras, ada yang ketagihan obat. In the beginning most of them wanted just to numb their feeling.

Tapi, kenapa sih orang memilih untuk memilih berperilaku numbing ini?

Ada berbagai faktor yang setiap orang hadapi, dari mulai sakit hati, kecemasan, merasa kesepian, merasa diri buruk dan tak berharga, tidak merasa nyaman dengan ketidakpastian dalam hidupnya, merasa stress berat dengan berbagai hal yang harus dia hadapi, merasa diri kosong - tak karuan arah hidup, merasa tak pernah dihargai, merasa kecewa dengan diri sendiri, merasa hidup dalam topeng dan tidak bebas menjadi diri sendiri, atau berbagai trauma dan kekerasan baik itu secara fisik atau psikis yang pernah dialami. Latar belakangnya beragam, tapi underlying cause biasanya tentang lack of purpose. Belum menemukan tempat pijakan yang kokoh dalam kehidupan.

Numbing adalah jalan singkat untuk meredakan sakit dan kegelisahan yang dia alami. Sekadar terapi simtomatik dari penyakit yang sebenarnya tengah meradang dalam diri. It's just a short term defense mechanism sebenarnya. Tapi ketika seseorang berulang kali mengulang numbing ini dia secara perlahan tapi pasti berjalan semakin jauh dari kesejatian dirinya. Because when we numb, we walk away from ourselves.

So what should we do instead?

Pertama, sadari bahwa diri dan kehidupan ini bukan milik kita. Karena kalau benar-benar hidup ini milik kita, sejak awal kita harus punya power untuk memilih lahir dari orang tua yang mana, kapan, di mana, dalam raga yang mana dsb. The fact that it's all given adalah bahwa hidup ini adalah amanah, sebuah pemberian dari Yang Maha Kuasa yang wajib disyukuri.

Lalu, sadar emosi-emosi yang muncul itu. Jangan disangkal. Penyangkalan dan numbing tidak akan pernah menyelesaikan masalah bercokol di hati kita. Sadari itu, berefleksi dan merenung akan alasan yang sebetulnya yang ada. Kenapa kita bereaksi seperti itu? Dari mana perasaan itu? Apa yang kita takuti? Apa kemudian pelajarannya buat kita? Proses ini membutuhkan ketenangan dan waktu. But we should take time to really feel what we're feeling. Pandang dalam-dalam rasa sakit itu. Sit with our pain and leaning into it. Jangan melarikan diri darinya. Hadapi ketakutan itu. 

Kemudian mulai ubah pola-pola numbing yang sudah dilakukan. Misalnya mengurangi screen-time diganti dengan aktivitas yang lebih produktif. Menyadari bahwa numbing hanya sebuah upaya agar kita menjadi disconnect dari sekitar dan membuat keadaan tidak lebih baik. Then start to make connections with other significant people. Berderma, melayani sesama walaupun sesimpel mendengarkan seseorang curhat, membantu teman yang punya anak-anak kecil untuk jagain anak-anaknya selama si ibu belanja. Bereskan kamar kita yang berantakan dan berdebu. Berjalan-jalan di hari yang cerah. Lakukan semua dengan bismillah dan istighfar banyak-banyak. Dengan harapan Allah Ta'ala membukakan rahmatnya kepada hati kita yang membeku. Agar dia tidak mengeras dan membatu hingga kita tak bisa lagi mengenali kebenaran, tak bisa lagi memandang keindahan dalam semesta kita, tak sanggup lagi bersuka cita dalam menghadapi takdir yang Allah Ta'ala tuliskan. 

Remember, numbing gets us nowhere. Better face our discomfort and ask for help from God along the way.[]

Mau donasi lewat mana?

BRI - Ahmad Rozi (4128-01-023304-53-0)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
© Jendela Aswaja. All rights reserved. Developed by Jago Desain